Kirab Aceh 2026, Garda Damai Aceh Serukan Perdamaian sebagai Fondasi Masa Depan Aceh

oleh -63 Dilihat

BANDA ACEH — Komunitas Garda Damai Aceh (GDA) menggelar Kirab Aceh 2026 pada Sabtu, 15 Agustus 2026, untuk memperingati 21 tahun perdamaian Aceh. Sekitar 100 peserta dari berbagai unsur masyarakat dan komunitas ambil bagian dalam kegiatan yang ditandai dengan konvoi melintasi wilayah Aceh Besar dan Kota Banda Aceh.

Konvoi menggunakan mobil, becak, dan sepeda motor. Selain momentum peringatan 21 tahun perdamaian Aceh, kirab tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali menegaskan pentingnya menjaga perdamaian sebagai fondasi kehidupan sosial, politik, dan pembangunan Aceh.

Kegiatan turut melibatkan Jaringan Aneuk Syuhada Aceh
(JASA) Aceh Besar bersama sejumlah komunitas dan elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap keberlanjutan perdamaian Aceh.

Koordinator Garda Damai Aceh, Raif Alghifari, menegaskan bahwa Kirab Aceh 2026 tidak boleh dimaknai sebatas kegiatan seremonial.

Menurutnya, 21 tahun perdamaian merupakan momentum untuk merefleksikan perjalanan Aceh sekaligus memperkuat kesadaran bahwa perdamaian harus dirawat secara bersama-sama.

“Perdamaian Aceh merupakan hasil dari perjalanan panjang yang harus terus kita rawat bersama. Melalui Kirab Aceh 2026, kami ingin menyampaikan pesan bahwa perdamaian adalah milik seluruh masyarakat Aceh dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya,” ujar Raif.
Ia menyebutkan, keterlibatan sekitar 100 peserta dari berbagai unsur menunjukkan bahwa semangat menjaga perdamaian masih tumbuh di tengah masyarakat. Pergerakan konvoi melintasi Aceh Besar dan Banda Aceh juga menjadi simbol bahwa pesan perdamaian harus terus disampaikan, bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Kirab ini bukan hanya tentang kendaraan yang bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Yang ingin kita gerakkan adalah pesan bahwa perdamaian harus terus hidup dalam kesadaran masyarakat Aceh,” kata Raif.

Menurutnya, keberlanjutan perdamaian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, partisipasi generasi muda dinilai sangat penting untuk memastikan nilai-nilai perdamaian tetap relevan bagi generasi berikutnya.

Raif mengatakan keterlibatan JASA Aceh Besar menjadi salah satu bentuk partisipasi generasi muda dalam menjaga keberlanjutan perdamaian Aceh.

“Generasi muda harus menjadi bagian dari penjaga perdamaian. Mereka perlu memahami sejarah konflik dan proses perdamaian Aceh agar pengalaman masa lalu dapat menjadi pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Kirab Aceh 2026 mengusung tema “Bersatu dalam Damai, Maju dalam Kebersamaan, Menuju Aceh Sejahtera.” Tema tersebut menegaskan bahwa perdamaian tidak cukup hanya dimaknai sebagai berakhirnya konflik bersenjata, tetapi harus diterjemahkan menjadi persatuan, stabilitas, pembangunan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Garda Damai Aceh memandang perdamaian sebagai modal sosial dan politik yang harus terus dijaga agar Aceh dapat bergerak menuju masa depan yang lebih aman, maju, dan sejahtera. Karena itu, peringatan 21 tahun perdamaian diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama.

Melalui Kirab Aceh 2026, GDA bersama peserta menyampaikan pesan bahwa perdamaian Aceh bukan sekadar catatan sejarah, melainkan tanggung jawab generasi hari ini dan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Semangat “Aceh Damai” diharapkan terus menjadi nilai bersama yang hadir dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan pembangunan Aceh. Dengan demikian, perdamaian tidak hanya diperingati setiap tahun, tetapi benar-benar menjadi fondasi bagi terwujudnya Aceh yang bersatu, maju, dan sejahtera.[]