Kadis ESDM Aceh Dukung Langkah Mualem Perjuangkan Pengolahan Gas South Andaman di Daratan

oleh -855 Dilihat

Banda Aceh, Beaktual.com – Pemerintah Aceh terus memperkuat komitmennya dalam memperjuangkan pengelolaan sumber daya alam yang memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Dukungan penuh terhadap langkah tegas Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), dalam mengawal pengembangan Wilayah Kerja (WK) South Andaman disampaikan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Asnawi, S.T., M.S.M.

Menurut Asnawi, keputusan Pemerintah Aceh yang meminta penundaan persetujuan Plan of Development (PoD) I Lapangan Tangkulo merupakan langkah strategis dan visioner untuk memastikan potensi gas raksasa South Andaman benar-benar menjadi instrumen pembangunan ekonomi daerah, bukan sekadar proyek eksploitasi sumber daya.

“Pemerintah Aceh harus memastikan setiap keputusan yang diambil mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi rakyat. Karena itu, kami mendukung penuh langkah Bapak Gubernur Aceh Mualem dalam memperjuangkan konsep pengembangan yang memberikan dampak ekonomi terbesar bagi Aceh,” kata Asnawi, 2 Juni 2026.

Ia menilai keberadaan cadangan gas besar di South Andaman membuka peluang historis untuk menghidupkan kembali denyut industri migas Aceh, khususnya di kawasan Arun, Kota Lhokseumawe. Bahkan, Asnawi optimistis pengembangan yang terintegrasi dengan fasilitas pengolahan di daratan dapat mengembalikan kejayaan Lhokseumawe sebagai salah satu pusat industri energi terbesar di Indonesia.

“South Andaman berpotensi menjadi tonggak kebangkitan ekonomi Aceh. Jika pengelolaannya diarahkan untuk memanfaatkan kawasan eks Arun dan membangun fasilitas pengolahan di darat, maka Lhokseumawe berpeluang kembali menjadi Kota Petro Dolar yang mampu menggerakkan ekonomi kawasan,” ujarnya.

Asnawi menegaskan, pembangunan Onshore Processing Facility (OPF) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun merupakan pilihan yang jauh lebih strategis dibandingkan skema pengolahan menggunakan Floating Production Storage and Offloading (FPSO) di tengah laut.

Selain memanfaatkan infrastruktur yang telah tersedia, pengolahan gas di daratan dinilai mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan melalui pembukaan lapangan kerja, pertumbuhan sektor jasa dan perdagangan, peningkatan aktivitas transportasi, hingga tumbuhnya investasi baru di kawasan industri Aceh.

“Arun pernah menjadi simbol kemajuan ekonomi Aceh dan Indonesia. Keberhasilannya tidak hanya menghasilkan devisa negara, tetapi juga menciptakan ribuan lapangan pekerjaan dan menggerakkan berbagai sektor ekonomi masyarakat. Momentum South Andaman harus menjadi peluang untuk mengulang keberhasilan tersebut,” tegasnya.

Lebih lanjut, Asnawi menekankan bahwa gas South Andaman harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan strategis Aceh, termasuk mendukung operasional industri nasional yang berada di daerah seperti PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), kawasan eks PT Arun, serta pengembangan sektor industri hilir lainnya.

Menurutnya, sumber daya gas yang dimiliki Aceh harus menjadi pendorong kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan nilai tambah, peningkatan pendapatan daerah, dan penguatan kemandirian ekonomi.

“Gas South Andaman harus menjadi kekuatan ekonomi rakyat Aceh. Manfaatnya harus dirasakan langsung oleh masyarakat melalui lapangan kerja, investasi, pertumbuhan industri, dan peningkatan kesejahteraan. Inilah yang sedang diperjuangkan Pemerintah Aceh,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Aceh melalui surat resmi Nomor 500.10/2264 tertanggal 27 Februari 2026 telah meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia menunda persetujuan PoD I Lapangan Tangkulo hingga tercapai kesepahaman antara Pemerintah Aceh dan Mubadala Energy terkait konsep pengembangan lapangan gas tersebut.

Permintaan tersebut muncul karena masih terdapat perbedaan pandangan mengenai skema pengolahan gas. Pemerintah Aceh mengusulkan pembangunan fasilitas pengolahan darat di KEK Arun yang nantinya terintegrasi dengan pengembangan Lapangan Layaran, sementara pihak operator sebelumnya mengajukan opsi FPSO yang dinilai lebih cepat dari sisi teknis namun memiliki dampak ekonomi yang lebih terbatas bagi kawasan daratan Aceh.

Dengan potensi South Andaman yang disebut sebagai salah satu temuan gas terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir, Asnawi berharap seluruh pihak dapat menemukan solusi terbaik yang mengakomodasi kepentingan nasional sekaligus memberikan manfaat optimal bagi masyarakat Aceh.

“Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan arah industri energi Aceh selama puluhan tahun ke depan. Karena itu, pengembangannya harus dilakukan dengan visi besar, agar South Andaman menjadi fondasi kebangkitan ekonomi dan industri Aceh di masa mendatang,” pungkasnya.[]

No More Posts Available.

No more pages to load.