SEBELUM tahun 2016, setidaknya dari empat edisi pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Tanah Air yang telah dilalui kala itu, Kontingen Aceh selalu berada di posisi angka 20. Itu pun berkisar di antara peringkat 22 hingga 25.
Di PON 2000 Jawa Timur, Aceh finish di posisi 25 dengan hanya 1 medali emas, satu perak, dan 13 perunggu. Boleh jadi, Tanah Rencong lebih baik satu tingkat dari juru kunci PON untuk Pulau Sumatera ketika itu, Sumatera Barat. Satu emas dari pencak silat dan satu perak dari dayung, menyelamatkan wajah Aceh dari posisi terakhir.
Di PON 2004 Sumatera Selatan, Aceh boleh sedikit tersenyum karena berada di urutan Ke-22.
Sumbangan emas dari angkat besi melalui tiga lifter yakni Tarso, Yudi Suharsono, dan Muhammad Taufik sukses mengantarkan Aceh merebut 6 emas, 2 perak, dan 5 perunggu.
Selanjutnya, prestasi Serambi Mekkah bukan malah membaik. Di PON 2008 Kalimantan Timur, posisi Aceh kembali merosot. Dari posisi 22 menjadi 23. Dengan capaian 4 emas, 4 perak, dan 10 perunggu.
Kemudian pada PON tahun 2012 di Riau, rangking Aceh kembali terjun, dengan capaian, tiga medali emas, yaitu dari cabang tarung derajat, terjun payung dan kempo, dan 5 perak, serta 18 perunggu, membuat Tanah Rencong kembali ke posisi 25. Artinya, Aceh kembali mundur keta PON tahun 2000 di Jawa Timur.
Setelah terseok-seok di empat edisi PON, Aceh akhirnya mulai berbenah. Di bawah komando Ketua Umum KONI Aceh H. Muzakir Manaf atau Mualem, bersama Ketua Harian H. Kamaruddin Abu Bakar atau Abu Razak, dan Sekretaris Umum M. Nasir Syamaun serta pengurus lainnya, dunia olahraga Tanah Rencong harus bekerja ekstra keras. Dan hasilnyan pun, Mualem-Abu Razak dua kali sukses menciptakan sejarah baru yang belum dicapai sebelumnya.
Mualem dua kali dipercayakan untuk memimpin induk organisasi cabang olahraga di Aceh, yaitu pada periode 2014-2018 dan 2018-2022.

Bermodal pengalaman pertama mengikuti PON sebagai pimpinan Kontingen Aceh, Mualem-Abu Razak datang ke Bumi Pasundan dengan percaya diri, menghadapi PON XIX tahun 2016 Jawa Barat. Hasilnya?
Para atlet di bawah binaan KONI Aceh langsung menghadirkan prestasi mengesankan. Ya, untuk pertama kali dalam sejarah keikutsertaan di PON, Kontingen Aceh berhasil bercokol di urutan Ke-12 dari 34 provinsi, dengan capaian 8 medali emas, 7 perak, dan 9 perunggu.
Kemudian, Pada PON 2021 di Papua, KONI Aceh kembali mencatatkan sejarah baru, dengan merebut 11 medali emas, 7 perak, dan 11 perunggu. Dan, untuk pertama kalinya, duta-duta Serambi Mekkah berhasil melampaui prestasi dari Sumatera Utara, yang dikenal sebagai salahsatu raksasa olahraga di Pulau Sumatera.
Satu dekade terakhir, sejak pertamakali Mualem dipercaya sebagai Ketua Umum dan Abu Razak sebagai Ketua Harian, boleh dikatakan, prestasi olahraga Aceh berada di puncak, jika dibanding dengan periode-periode sebelumnya.
Dan kini, Abu Razak melanjutkan estafet Mualem sebagai Ketua Umum KONI Aceh.
Berkaca dari grafik peningkatan prestasi yang telah diraih selama dua kali PON, Abu Razak bersama jajaran pengurus KONI Aceh menargetkan untuk meraih posisi 10 besar dari 38 provinsi peserta PON XXI Tahun 2024 Aceh-Sumut.
Meskipun persaingan pada PON 2024 lebih ketat, karena mempertandingkan banyak cabang olahraga, dan untuk pertamakali diikuti oleh 38 provinsi, Abu Razak yakin akan mencapai target yang telah ditetapkan.
“Insya Allah,” kata Abu Razak.[]






