Dinas ESDM Aceh: Gerakan Tanah di Ketol dan Aceh Tengah Masih Aktif

oleh -54 Dilihat

Banda Aceh, Beaktual.com – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menyatakan bahwa gerakan tanah dan longsor di Kecamatan Ketol serta sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah masih menunjukkan aktivitas dan potensi pergerakan lanjutan, terutama pada lokasi-lokasi bekas longsoran yang masih memiliki rekahan tanah.

Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik, ST, M.Si, mengatakan kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan hasil peninjauan dan pemantauan lapangan yang dilakukan tim geologi Dinas ESDM Aceh pada sejumlah titik gerakan tanah di Kecamatan Ketol dan wilayah Aceh Tengah lainnya.

“Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, kami menemukan bahwa di beberapa lokasi longsor lama masih dijumpai rekahan tanah yang cukup berkembang pada bagian mahkota longsoran. Kondisi ini menunjukkan bahwa massa tanah tersebut belum stabil sepenuhnya dan masih berpotensi bergerak kembali, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi,” kata Taufik di Banda Aceh.

Menurutnya, salah satu lokasi yang menjadi perhatian utama adalah Gampong Pondok Balek, Kecamatan Ketol. Wilayah tersebut merupakan zona gerakan tanah aktif yang telah lama teridentifikasi dan telah beberapa kali menjadi objek kajian teknis Dinas ESDM Aceh.

Hasil survei ortofoto, pengukuran geolistrik, serta pengukuran menggunakan metode ADMT/AGR menunjukkan bahwa pergerakan tanah di kawasan tersebut berlangsung secara lambat namun progresif. Kondisi geologi setempat didominasi material vulkanik lapuk dari Formasi Satuan Lampahan yang mudah jenuh air sehingga rentan mengalami pergerakan.

Data yang diperoleh juga menunjukkan bahwa dalam periode tertentu pernah terjadi pergeseran tanah hingga beberapa meter ke arah tenggara, searah dengan arah potensi longsoran yang teridentifikasi dari hasil pengukuran bawah permukaan.

Selain di Ketol, tim Dinas ESDM Aceh juga menemukan sejumlah lokasi rawan longsor di wilayah Aceh Tengah, terutama pada daerah-daerah dengan lereng curam. Banyaknya rekahan yang ditemukan pada bagian atas mahkota longsor menjadi indikasi bahwa proses pergerakan tanah masih berlangsung secara perlahan dan berpotensi berkembang menjadi longsor susulan.

Taufik menjelaskan bahwa kewaspadaan perlu ditingkatkan tidak hanya di Kecamatan Ketol, tetapi juga di sejumlah kawasan lain yang memiliki kondisi geologi serupa, seperti sepanjang ruas Jalan Bireuen–Takengon, kawasan Desa Mendale dan Desa Payareje di Kecamatan Kebayakan, Desa Hakim Bale Bujang di Kecamatan Lut Tawar, wilayah Kecamatan Bintang, serta sejumlah desa lainnya di Kabupaten Aceh Tengah.

“Daerah-daerah tersebut umumnya tersusun oleh material vulkanik lepas seperti tufa dan pasir dengan lereng yang relatif curam. Kondisi ini menjadikannya rentan terhadap longsor, terutama saat curah hujan tinggi maupun ketika terjadi gempa bumi,” ujarnya.

Ia menambahkan, hasil pemantauan juga menemukan sejumlah bekas longsoran lama yang masih menyisakan rekahan serta blok tanah yang belum stabil sehingga berpotensi mengalami pergerakan kembali apabila dipicu oleh faktor cuaca maupun aktivitas lainnya.

Karena itu, masyarakat dan pengguna jalan di wilayah rawan longsor diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan serta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, terutama pada musim hujan.[]

No More Posts Available.

No more pages to load.